Kakanwil Kemenag DIY: Sekolah Maarif Harus Hadapi Perubahan Zaman

Sleman, Maarifdiy.com–Saat ini terjadi perubahan cepat di masyarakat. Satu di antara perubahan yang sedang kita rasakan adalah perubahan dalam bidang teknologi. Dahulu masyarakat menggunaka wartel (warung telepon) untuk berkomunikasi, kemudian beralih ke telepon seluler, saat ini masyarakat sudah menggunakan smartphone.

Hal tersebut disampaikan Drs. H. Muhammad Lutfi Hamid pada acara halal bi halal di LP Ma’arif DI Yogyakarta, Sabtu (22/7).

Tentang perubahan dalam bidang teknologi, Mantan Kakankemenag Sleman itu mencontohkan perubahan dalam sistem pembayaran. Dahulu masyarakat menggunakan pembayaran secara tunai, kemudian berkembang menjadi kartu kredit, saat ini sudah mulai menggunakan smartphone.

Lutfi Hamid mengaku bahwa dirinya tidak sempat memiliki kartu kredit, sistem pembayaran justru sudah berubah. Hal ini juga dapat terjadi pada lembaga pendidikan, jika lembaga pendidikan tidak peka zaman, maka akan digilas oleh perubahan itu sendiri. Maka, saat ini dapat disaksikan, ada sekolah yang semakin berkembang, tidak mengalami perubahan, bahkan ada pula sekolah yang justru hampir tutup karena tidak siap menghadapi perubahan.

Terkait dengan lembaga pendidikan di lingkungan Ma’arif, Lutfi Hamid mengingatkan, hal pertama yang perlu diperhatikan adalah karakter nahdliyin yang sangat dipengaruhi aspek ketokohan. Oleh karena itu, Lutfi Hamid mengharapkan keterlibatan tokoh-tokoh NU setempat untuk serta mengembangkan lembaga pendidikan.

Kedua, keterlibatan para tokoh semestinya disertai oleh sebuah komitmen. tanpa komitmen, kehadiran para tokoh didefinisikan oleh Lutfi Hamid sebagai “adanya menjadi tidak ada”.

Setelah adanya komitmen, hal ketiga yang perlu dicermati adalah peningkatan kualifikasi guru dan karyawan. Tanpa kualifikasi, komitmen tidak akan memiliki banyak arti. Untuk itu, perlu dianalisis, kualifikasi seperti apa yang tepat untuk menduduki pos-pos tertentu pada lembaga pendidikan.

Kemudian, keempat, perlu membangun jejaring dengan organisasi di lingkungan NU. Dalam membangun jejaring di organisasi ke-NU-an, lembaga pendidikan hendaknya memiliki program yang bisa ditawarkan serta memiliki target. Dengan adanya program dan target ini, organisasi di lingkungan NU semestinya akan merespons positif untuk serta membesarkan sekolah Ma’arif.

Selain itu, Lutfi Hamid juga mengingatkan perihal publikasi. Publikasi bukan untuk riya, menurutnya. Publikasi bertujuan untuk menunjukkan bahwa NU, dalam hal ini sekolah Ma’arif, dapat membuktikan diri.

Halal bi halal yang dilangsungkan di Pondok Pesantren Pangeran Diponegoro itu dihadiri para kyai, tokoh Ma’arif DIY, para kepala sekolah, dan guru-guru ke-NU-an di Yogyakarta. Dalam sambutannya, Ketua LP Ma’arif DIY, Profesor Sugiyono mengingatkan hadirin untuk memiliki rasa bersalah kepada lembaga.

“Selama ini masyarakat sudah menyadari betul perihal rasa bersalah terhadap Tuhan dan terhadap sesama manusia. Untuk membesarkan organisasi atau lembaga, kita semestinya juga memiliki perasaan bersalah kepada organisasi atau lembaga,” tuturnya.

Dengan adanya perasaan berasalah kepada lembaga, Sugiyono berharap akan ada peningkatan kinerja guru dan karyawan di lingkungan LP Ma’arif DI yogyakarta.

Selain bermaaf-maafan, pada kesempatan itu hadirin juga menyaksikan pelantikan pengurus MKKS tingkat SMA/SMK di lingkungan LP Ma’arif DI Yogyakarta serta pelantikan pengurus MGMP Aswaja. []

Reporter: Sabjan Badio