Belajarlah hingga ke Negeri Cina

Fatkhu Yasik

LP Ma’arif DIY, September 2015 “Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan (potensi) dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa,………” (UU No. 20/2003 tentang SPN).

Tidak sedikit masyarakat dunia saat ini perhatiannya terpusat ke kota London. Tempat diselenggarakannya Olimpiade 2012 yang dimulai pada tanggal 27 Juli-12 Agustus 2012. Disamping sebagai ajang pebuktian ketangkasan, even ini juga dianggap menjadi pembuktian keberhasilan pembinaan – pendidikan – yang dilakukan oleh masing-masing negara peserta. Jika dianalogikan, olimpiade ini diumpamakan sebagai ‘UN-nya’ negara. Kualitas pendidikan yang dijalankan di masing-masing negara diuji dengan berbagai perlombaan. Dan pada akhirnya, melalui perolehan medali akan diketahui, negara mana yang paling efektif dan efisien dalam megolah dan mengembangkan potensi warga negaranya.

Setiap bangsa berharap negaranya mampu mengukir prestasi gemilang yang membanggakan. Begitupula dengan kita, bangsa Indonesia. Olimpiade London 2012 kali ini juga sebagai ajang pembuktian. Sejauh mana pemerintah kita ‘tangkas’ menangkap dan mengolah potensi warga negara yang berjumlah + 235 juta jiwa ini menjadi individu berkualitas. Melalui system pendidikan nasional diharapkan pemerintah mampu secara efektif dan efisien mengolah dan mengembangkan potensi yang dimiliki bangsa Indonesia.

Sejauh ini, laporan london2012.com (30/07/2012) merilis, Cina mendominasi perolehan medali, dengan total 9 medali (6 emas, 1 perak, 2 perunggu). Perkembangan ini memantapkan mereka untuk mengulang sukses 4 tahun sebelumnya sebagai juara umum pada Olimpiade Beijing 2008. Sekaligus membuktikan sistem pendidikan – pembinaan – yang mereka lakukan untuk mencetak warga negaranya sebagai individu berkualitas kelas dunia berhasil. Sistem pendidikan mereka mampu mendeteksi, mengolah, dan membina potensi-potensi yang tersebar di + 1.298.847.624 jiwa.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan negara kita, Indonesia. Sistem pendidikan nasional kita seolah tidak mampu mendeteksi, mengolah, dan membina potensi yang terdapat di + 235 juta jiwa bangsa Indonesia. Ini terbukti dari 26 cabang olahraga yang dipertandingkan dalam olimpiade london, Indonesia hanya mampu mengirim atlit pada 7 nomor cabang olahraga yang terdiri dari 21 atlet. Minimnya cabang olahraga yang diperebutkan akan berdampak pada peluang Indonesia memperoleh medali. Kenyataan ini tentu saja menyadarkan + 235 juta penduduk Indonesia untuk menerima kenyataan pahit. Tidak ada lagi harapan untuk mengukir prestasi cemerlang dan membuat bangsa kita diperhitungkan di level internasional pada olimpiade kali ini.

Berbagai kritik tentu saja sudah semestinya disikapi dengan bijak oleh pemerintah. Termasuk kritik yang ditujukan kepada sistem pendidikan nasional. Data menunjukkan, setelah Cina, India, dan AS, Indonesia adalah negara yang memiliki jumlah penduduk terbesar di dunia. Artinya dari jumlah penduduk, potensi yang dimiliki Indonesia sangat besar. Atau dengan kata lain, harusnya Indonesia memiliki peluang besar menempati peringkat keempat negara terbanyak yang memperoleh medali. Namun realitanya, jika kita berkaca pada Olimpiade Beijing 2008, Indonesia hanya mampu meraih 5 medali (1 emas, 1 perak, 3 perunggu). Prestasi ini tidak mencerminkan sebuah negara yang ditunjang dengan potensi jumlah warga negara terbesar keempat di dunia.

Sudah saatnya kita belajar banyak dari bangsa Cina. Keberhasilan yang mereka capai saat ini tidak bisa dimaknai hasil dari kerja yang instant. Ajaran konfusiusme yang diwariskan nenek moyang mereka, mampu digunakan sebagai filosofi pendidikan yang mereka bangun. Mereka mampu menciptakan sistem pendidikan yang mandiri, original, sesuai dengan karakter bangsa Cina sendiri. Pendidikan yang mereka bangun tidak sebagai kepanjangan tangan kepentingan global. Kemandirian dalam dunia pendidikan mereka akhirnya menghasilkan kemandirian Cina dalam tatanan budaya, politik, dan ekonomi. Sehingga, apa yang dicapai Cina dalam Olimpiade Beijing 2008 sebelumnya, serta Olimpiade London 2012 saat ini bukan sesuatu yang a historis.

Lalu, bagaimana dengan kita, bangsa Indonesia? Apakah kita siap menjadi bangsa unggul berikutnya mengikuti jejak bangsa Cina? Sepanjang kita mengambil jarak dengan sejarah dan segala sesuatu yang diwariskan nenek moyang kita, maka sampai kapan pun kita tidak akan pernah ‘setara’ dengan bangsa Cina. Wallahu a’lam. [maarif-nu.or.id]